24 Juli 2026
Mahasiswa KKN UM Hidupkan Kembali Wajah Digital Desa Tegalasri

TEGALASRI: Sebuah map berisi selembar kertas berjudul "Buku Panduan Panel Admin Website Desa Tegalasri" berpindah tangan di ruang tamu Kantor Desa Tegalasri, Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar, siang itu, Kamis (23/7). Momen sederhana tanpa gunting pita atau seremoni besar itu menandai babak baru bagi desa berpenduduk lebih dari 8.200 jiwa ini: kembalinya wajah digital mereka, setelah sempat mati suri.
Dalam pertemuan informal tersebut, Tim UM BBM (Belajar Bersama Masyarakat), program pengabdian masyarakat Universitas Negeri Malang yang sebelumnya dikenal dengan nama Kuliah Kerja Nyata (KKN), Desa Tegalasri menyerahkan laporan pengembangan sekaligus panduan pengelolaan website resmi desa kepada Kepala Desa Tegalasri, Retnoningsih, didampingi Sekretaris Desa, Arif Efendi.
"Kepala Desa mengucapkan terima kasih atas dedikasi yang diberikan dalam pengembangan website desa. Sekretaris Desa juga turut menyampaikan apresiasi atas usaha seluruh tim, setelah mengetahui besarnya kontribusi yang telah diberikan," ujar salah satu anggota Tim UM BBM Desa Tegalasri menirukan sambutan hangat dari kedua perangkat desa tersebut.
Ketika Website Desa Sempat "Terkunci"
Yang membuat momen ini terasa istimewa bukan sekadar soal tampilan baru, melainkan soal kembalinya kendali penuh atas identitas digital desa ke tangan pemerintah desa sendiri. Sebelumnya, Desa Tegalasri sebenarnya sudah memiliki website, namun perangkat desa kesulitan mengunggah konten apa pun ke sana. Penyebabnya, kerja sama dengan vendor pihak ketiga yang dulu mengelola situs tersebut terhenti di tengah jalan, membuat admin desa kehilangan akses ke sistem mereka sendiri.
Menjawab persoalan itu, Tim UM BBM Desa Tegalasri turut mengurus pengajuan akses cPanel resmi ke Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Blitar, sebuah fasilitas domain desa.id yang sebenarnya berhak diajukan oleh setiap desa di Indonesia, namun belum banyak dimanfaatkan secara maksimal. Setelah akses dipulihkan, barulah website baru dibangun dari nol di atas fondasi domain resmi tersebut.
Proses ini tidak berlangsung singkat. Selama kurang lebih lima minggu masa BBM, seluruh anggota tim bergantian menangani berbagai tugas: mulai dari pengumpulan data dan profil desa, pengembangan sistem, hingga pengurusan administrasi domain ke Diskominfo. Developer Syahruzzahid tercatat sebagai salah satu tenaga pengembang utama, di bawah arahan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Rika Khoiriya Mellyaning.
Satu Pintu untuk Wisata, UMKM, dan Cerita Desa
Di layar, website itu menyapa pengunjung dengan foto-foto hamparan sawah dan perbukitan Tegalasri, disusul data statistik desa yang lengkap: mulai dari jumlah dusun, tahun berdiri, hingga komposisi penduduk. Namun tiga hal inilah yang paling diunggulkan tim pengembang.
Pertama, katalog UMKM: etalase digital tempat produk olahan, kerajinan tangan, dan kuliner khas warga bisa ditemukan calon pembeli dari luar desa, bahkan luar kota. Kedua, halaman Wisata, yang memperkenalkan potensi alam Tegalasri kepada wisatawan yang selama ini mungkin belum tahu keberadaannya. Ketiga, galeri foto di beranda situs, yang menjadi jendela pertama bagi siapa pun untuk mengenal wajah dan suasana Tegalasri sebelum menjejakkan kaki ke sana.
"Di dunia digital, promosi desa sangat bergantung pada media digital seperti media sosial dan website. Adanya website ini diharapkan menjadi media pendukung penyebaran informasi, yang pada akhirnya berdampak pada popularitas desa, trafik wisatawan, serta ekonomi warga melalui promosi UMKM," kata perwakilan Tim UM BBM Desa Tegalasri.
Kunci Diserahkan, Kini Giliran Desa yang Memegang Kendali
Agar website ini tidak bernasib sama seperti pendahulunya, terbengkalai karena kendali ada di luar desa, tim memastikan proses alih kelola berjalan tuntas. Sekretaris Desa Arif Efendi secara khusus telah menerima pelatihan langsung penggunaan panel admin, dan didapuk sebagai salah satu admin harian website. Buku panduan yang diserahkan turut disiapkan agar kelak bisa menjadi rujukan bagi admin-admin desa lain yang akan ditugaskan menyusul.
Dengan kunci pengelolaan kini sepenuhnya berada di tangan perangkat Desa Tegalasri sendiri, babak sebelumnya, ketika layar informasi desa gelap karena terputus dari pihak luar, resmi ditutup. Yang tersisa kini hanyalah halaman kosong menanti diisi: cerita-cerita baru tentang sawah yang menghijau, UMKM yang tumbuh, dan wisatawan yang mulai datang, ditulis langsung oleh tangan-tangan Desa Tegalasri sendiri.